bisnis mlm zhifam

Penyebab Bisnis MLM Berakhir Buruk

No comment 104 views

Bisnis Multi Level Marketing (MLM) pada dasarnya memiliki tujuan bisnis yang bagus dan menjanjikan, akan tetapi yang namanya bisnis tidak dapat dipastikan akan mengalami keuntungan secara terus menerus, jika dibandingan dengan kerugiannya yang namanya berbisnis itu seringnya lebih banyak pengalaman ruginya daripada untungnya terlebih jika Anda tidak mengetahui tentang ilmu dan strategi dalam berbisnis.

Termasuk dengan bisnis MLM ini. Perlu Anda ketahui, jika dilihat-lihat dalam bisnis Multi Level Marketing ini ada dua prinsip dasar yaitu yang pertama, adanya produk-produk untuk dijual dan yang kedua adalah usaha dari para member MLM untuk mencari dan merekrut member baru. Dari situlah ada istilah Upline (atasan/leader) dan Downline (bawahan).

Di dalam menjalankan bisnis MLM sebagian orang berpendapat bagi mereka yang sukses, bisnis MLM adalah bisnis yang menggiurkan dan menjanjikan karena menghasilkan banyak keuntungan untuk para anggotanya. Namun bagi mereka yang pernah mengalami kerugian, mereka merasa bisnis MLM adalah bisnis yang menipu, menimbulkan banyak kerugian serta membuat hidup menjadi lebih buruk dari sebelumnya.

Tidak dapat dipungkiri pada faktanya, bisnis MLM memang sangat menggiurkan diawal, terlebih para anggota MLM dalam mencari dan merekrut member baru selalu menceritakan kisah-kisah manisnya dan janji-janji dari keuntungan yang bakal didapatkan ketika menjadi member suatu perusahaan MLM.

Jika dilihat sesungguhnya, keadaan ini keluar dari konteks penjualan produk, yang seharusnya MLM berfokus pada penjualan produk ke masyarakat luas tetapi malah penjualan produk seperti dikesampingkan atau diabaikan dan lebih fokus untuk melebarkan sayap dengan mencari dan merekrut member baru sebanyak-banyaknya, dan biasanya ada target yang harus dicapai.

Mungkin ada dari Anda yang bertanya mengapa bisnis MLM lebih menargetkan untuk mencari dan merekrut member baru dibandingkan dengan menjual produk-produknya? Ini dikarenakan, jika melihat kenyataan di lapangan dapat dikatakan bahwa fokus utama dalam dunia bisnis MLM adalah usaha untuk mencari member sebanyak mungkin, karena tidak sedikit member MLM yang mendapatkan penghasilan atau komisi dari merekrut orang.

Malahan semakin banyak yang dia rekrut maka akan semakin banyak pula komisi didapatkan. Namun bagi mereka yang tidak berhasil menjual produk atau pun merekrut orang, kemungkinan besar ia akan mengalami kerugian dan merasa hidupnya jauh lebih buruk dari sebelumnya.

Disarikan dan dirangkum dari laman web tempo.co, ada beberapa penyebab bisnis MLM berakhir buruk yakni:

1. Psikologi mereka yang menawarkan produk

Tidak sedikit orang-orang yang menyatakan bahwa bisnis MLM adalah penipuan. Bagi mereka yang sudah pernah bergabung dan menjalani bisnis ini pasti sedikit banyak paham akan cara kerja bisnis MLM ini. Salah satunya, ketika member MLM menawarkan produk mereka kepada member baru, sebagian orang kemudian menggunakan trik atau strategi untuk 'menjebak' calon pembelinya. Contohnya seperti dengan mengadakan dan mengundang ke suatu acara dimana tema atau nama acaranya berbeda jauh dengan acara yang sesungguhnya. Seperti acara makan malam namun kenyataan di lapangan bukan sekedar makan malam tetapi malah terjadi hard selling dan ambush marketing.

Hard selling merupakan usaha menjual sesuatu kepada orang lain dengan membujuk orang berkali-kali, hingga orang yang mereka bujuk akhirnya mengiyakan dan menerima tawaran. Mereka menerima tawaran itu bukan dari hati melainkan karena tertekan dan terpaksa. Sedangkan Ambush marketing lebih mengacu saat seseorang tidak menduga akan ditawari dengan suatu produk. Jika dari awal bergabung bukan didasari karena keinginan hati, otomatis tidak ada semangat, daya dan upaya untuk menjalankan bisnis ini, alhasil bisnis MLM ini akan berakhir buruk.

2. Ada yang merasa jadi korban tapi ada juga yang tidak

Memang tidak semua orang yang dirayu, didekati, dan ditawari menjadi anggota MLM merasa menjadi korban. Ada diantara mereka yang sukarela menjadi member dan kemudian mencoba mengikuti penjualan 'produk' dengan pola perekrutan yang telah disepakati. Namun ditengah perjalanan ada sebagian yang masuk secara sukarela, tapi belakangan merasa tertipu karena dipaksa, ada juga yang merasa dihipnotis ketika ditawari produk MLM, sehingga ia memberikan persetujuan dalam keadaan tidak sadar sepenuhnya.

Kerugian yang mereka alami saat tidak sadar sepenuhnya ini tergantung kapan mereka sadar jika sudah 'tertipu' dan hal ini akan menentukan apakah uang yang sudah mereka setorkan bisa diambil kembali atau tidak. Jika uang yang disetorkan tidak dapat diambil maka otomatis ia mengalami kerugian. Tapi perlu diketahui dalam peraturan MLM seharusnya memungkinkan mereka yang menjadi korban untuk mendapatkan uangnya kembali pada masa cooling period, yang bervariasi antara 1 sampai 14 hari, dimana konsumen dilindungi secara hukum dan memiliki hal yang membatalkan persetujuan.

3. Merasa malu untuk mengakui dan mengungkapkan bahwa telah menjadi korban

Secara umum, banyak dari member MLM yang merasa menjadi korban ini awalnya merasa sendirian, karena mereka malu untuk mengakui dan menceritakan kebodohannya'kepada orang lain soal apa yang sudah mereka alami. Rasa malu inilah yang membuat pihak berwenang mengalami kesulitan untuk mengungkap dan membongkar kasus-kasus penipuan dalam bisnis MLM, karena korban awalnya tidak mau melapor ke polisi. Jika sudah begini maka mereka yang merasa jadi korban hanya bisa mengiklaskan kerugian yang sudah diderita.

4. Bayaran awal untuk mulai bergabung dengan MLM

Sesungguhnya apa bila tujuan bisnis adalah menjual produk, maka biaya awal sebenarnya tidak diperlukan. Biasanya MLM yang merekrut menggunakan biaya awal, beralasan bahwa ada 'uang bergabung' untuk keperluan pelatihan dan pengembangan diri, padahal bentuknya hanyalah beberapa brosur murahan.

5. Mudah termakan janji-janji manis

Dijanjikan dapat menghasilkan banyak uang tanpa kerja keras dan hanya butuh sedikit usaha. Jangan mudah percaya dengan omongan itu, sebagian orang yang bergabung rata-rata tergiur karena omongan itu, padahal perlu disadari bahwa untuk mendapatkan uang banyak perlu kerja keras bukan hanya sekedar merekrut orang.

Kebanyakan perusahaan MLM hanya memberikan penghasilan sampingan saja, bukan penghasilan utama. Perusahaan yang diisi dengan banyak member tapi tidak ada produk yang dijual, hanyalah menjadi kumpulan orang, bukan perusahaan yang akan bisa maju. Ini merupakan bisnis yang buruk.

Itulan tadi beberapa penyebab atau faktor bisnis MLM berakhir dengan buruk, semoga dengan ada artikel ini bisa menambah wawasan Anda yang membaca dan bermanfaat untuk semua. Berhati-hatilah jika ingin bergabung dengan salah satu perusahaan MLM, kenali dulu sebelum bergabung didalamnya. Sekian dan terimakasih.

bisnis mlm zhifam
author
No Response

Leave a reply "Penyebab Bisnis MLM Berakhir Buruk"